Ruang keluarga, warung kopi, hingga lini masa media sosial beberapa waktu lalu ramai membicarakan satu hal: hasil final D'Academy 6. Kontroversi muncul ketika Tasya dinobatkan sebagai pemenang, sementara Valen kontestan yang kerap membuat juri dan penonton terpukau dengan kedalaman vokal dan tekniknya yang mumpuni harus berada di posisi kedua. Sorotan utama tertuju pada sistem penilaian: bagaimana perolehan gift atau dukungan finansial digital dari penonton menjadi penentu kemenangan di atas penilaian teknis juri?
Sebagai akademisi, gelombang diskusi publik ini menarik untuk disimak. Di balik glamour lampu panggung dan deretan angka gift, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah perdebatan klasik tentang validitas penilaian. Apakah alat ukur yang kita gunakan benar-benar menangkap esensi dari apa yang ingin kita nilai? Fenomena ini dengan jelas memperlihatkan apa yang disebut sebagai ancaman terhadap validitas konstruk, yaitu ketika skor penilaian dipengaruhi oleh hal-hal di luar konstruk atau kemampuan yang seharusnya diukur (Rahman & Maningtyas, 2023). Dalam konteks pendidikan tinggi, ketidakselarasan antara tujuan pembelajaran dan metode asesmen merupakan isu yang terus didiskusikan untuk memastikan kelulusan mahasiswa yang benar-benar kompeten (Siregar et al., 2024).
Assessment Gap: Jarak Antara Tampilan dan Tolok Ukur
Dalam dunia pendidikan, situasi di mana terjadi ketidaksesuaian antara kompetensi yang seharusnya diukur dan instrumen pengukurannya dikenal sebagai assessment gap atau kesenjangan penilaian. Bayangkan jika dalam ujian mata kuliah sastra, mahasiswa dinilai berdasarkan kecepatan membaca, bukan kedalaman interpretasi teks. Atau, dalam mata kuliah desain, nilai akhir ditentukan oleh popularitas karya di media sosial, bukan oleh inovasi dan penerapan prinsip estetika.
Apa yang terjadi di panggung D'Academy memantulkan potret serupa. Jika tujuan kompetisi adalah menemukan bakat terbaik dalam hal musikalitas, vokal, dan performa panggung, maka menempatkan gift yang lebih mencerminkan daya dukung ekonomi dan popularitas sebagai penentu utama, berpotensi menimbulkan distorsi. Instrumen ukurnya menjadi tidak sepenuhnya selaras dengan sasaran ukur. Hal ini menjadi gambaran nyata dari peringatan bahwa asesmen harus otentik; tugas penilaian harus merefleksikan kompetensi dan konteks dunia nyata dari bidang yang dinilai (Widiastuti & Wahyudin, 2022). Tanpa keselarasan ini, hasil penilaian kehilangan makna dan keabsahannya.
Mengapa Asesmen Autentik Menjawab Kegelisahan Ini?
Di sinilah konsep asesmen autentik menjadi relevan dan terus berkembang. Sebagai pendidik, prinsip ini bukan sekadar wacana, melainkan filosofi praktis yang menuntut konsistensi. Asesmen autentik menekankan tiga keselarasan: antara apa yang diajarkan, bagaimana cara belajarnya, dan cara menilainya. Intinya adalah menilai kompetensi seseorang bukan dari jawaban atas soal yang terpisah dari konteks, melainkan dari kemampuannya menerapkan pengetahuan dalam situasi yang bermakna dan menyerupai tantangan riil. Penelitian mutakhir menekankan bahwa asesmen autentik di pendidikan tinggi tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga membentuk pengalaman belajar yang mendalam dan relevan dengan kebutuhan industri (Kearney et al., 2023).
Contoh sederhana di ruang kuliah yang saya terapkan pada Mata kuliah Bahasa Inggris adalah dengan menguji kemampuan performance. Dalam artian, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi, Saya tidak cukup hanya menguji teori melalui ujian pilihan ganda. Sebagai gantinya, mahasiswa juga saya tugaskan untuk melaksanakan proyek role play untuk berkomunikasi di konteks tertentu seperti di restaurant, airport dan di campus library, dan membuat campaign plan lengkap untuk sebuah isu sosial, mempresentasikannya di depan “klien” yang diperankan oleh dosen lain, dan mempertahankan strateginya dalam sesi tanya jawab yang kritis. Di sini, yang terukur bukan hafalan teori, tetapi kemampuan analisis situasi, kreativitas strategi, dan ketangguhan berargumen. Pendekatan ini sejalan dengan temuan bahwa pembelajaran berbasis proyek dan simulasi inti dari asesmen autentik secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi mahasiswa (Pratama et al., 2024).
Dari Panggung ke Kelas: Prinsip yang Tidak Boleh Diabaikan
Pengalaman merancang asesmen semacam itu mengajarkan beberapa prinsip yang relevan dengan kegaduhan penilaian di kontes apa pun: 1) Transparansi Kriteria di Awal. Segala sesuatu harus jelas dari garis start. Seperti rubrik penilaian yang saya bagikan di minggu pertama perkuliahan, sebuah kompetisi pun perlu menjabarkan dengan terang benderang: bobot penilaian juri versus gift, aspek teknis apa yang dinilai, dan bagaimana keputusan akhir dihitung. Kejelasan ini meminimalisasi kekecewaan dan rasa tidak adil. Studi oleh Andriani & Fauzan (2023) menunjukkan bahwa transparansi rubrik asesmen autentik secara langsung berkorelasi dengan peningkatan rasa keadilan (fairness) yang dirasakan mahasiswa dan motivasi intrinsik mereka. 2) Penilaian Holistik atas Kompetensi Inti. Penilaian harus menyentuh inti kompetensi. Dalam menyanyi, itu bisa mencakup ketepatan nada, teknik pernapasan, dan interpretasi lagu. Dalam dunia akademik, itu berarti menilai kemampuan analitis, sintesis informasi, dan argumentasi, bukan sekadar kemampuan mengingat. Asesmen autentik kontemporer mendorong pendekatan holistik ini, seringkali melalui portofolio digital atau penilaian berbasis kinerja yang kompleks, untuk menangkap perkembangan mahasiswa secara lebih utuh (Kharisma & Sari, 2024). 3) Minimalisasi “Bising” dalam Penilaian. Asesmen yang baik berusaha meminimalisasi faktor pengganggu (*noise*) di luar kompetensi inti. Di kelas, ini berarti mengurangi dampak latar belakang ekonomi atau faktor personal lainnya terhadap nilai akademik murni. Di panggung kontes, ini menjadi perenungan: sejauh mana faktor di luar bakat musikal (seperti popularitas atau kemampuan finansial pendukung) seharusnya menentukan? Prinsip keadilan (fairness) dalam asesmen kini semakin dikaitkan dengan upaya mengidentifikasi dan mengurangi bias terselubung, termasuk yang mungkin muncul dari perbedaan latar belakang sosial-ekonomi peserta didik (Davies et al., 2024)..jpg)
Membangun Panggung yang Adil untuk Setiap Bakat
Akhirnya, kontroversi D'Academy 6 ini bukan tentang siapa yang lebih layak menang antara Tasya dan Valen. Melainkan, ia menjadi cermin bagi kita semua khususnya para pendidik untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita membangun “panggung” yang adil di ruang kuliah kita? Sudahkah sistem penilaian kita dirancang sedemikian rupa sehingga setiap mahasiswa mendapat kesempatan setara untuk menunjukkan pemahaman terdalam dan kemampuan terbaiknya, terlepas dari latar belakang mereka? Apakah nilai A di transkrip benar-benar merepresentasikan penguasaan konsep yang solid, atau sekadar kepiawaian memburu angka?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif inilah warisan terbaik dari sebuah fenomena populer. Ia mengingatkan kita bahwa seni menilai baik di panggung hiburan maupun di ruang pendidikan adalah seni yang penuh tanggung jawab. Tujuannya bukan sekadar menemukan pemenang, tetapi untuk menghargai setiap jerih payah, mengakui setiap pencapaian kompetensi, dan memastikan bahwa keadilan menjadi fondasi dari setiap keputusan yang kita ambil. Mari kita jadikan ruang kuliah sebagai panggung pertama yang mempraktikkan keadilan itu, dengan asesmen autentik sebagai panduannya.
Penulis: Millatul Islamiyah, M. Pd., M. Ed
Dosen: Bahasa Inggris
Prodi: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah